Jumat, 06 Juni 2014

ELECTRIC SHOCK TO THE BRAIN CAN HELP STROKE PATIENS' RECOVERY


Stroke patients with brain damage can recover more quickly with the help of small electric currents applied to the head from electrodes on the skull, a study has found.

The tiny electric currents are believed to stimulate the re-growth of nerve connections in the brain that have been lost as a result of oxygen starvation caused by stroke, scientists said.

Tests on a small group of healthy volunteers have shown significant improvements in the sort of brain activity that could also benefit stroke patients, the scientists said.

The research supports the idea that the brain can to some extent repair itself by rewiring and reconnecting itself to bypass damaged areas, according to Professor Heidi Johansen-Berg of Oxford University.
"The brain is far more dynamic than previously thought ... The connecting fibres of the brain change their structure with training,"

Professor Johansen-Berg said. "After stroke, there is widespread subtle damage to connecting fibres, far beyond the stroke itself. However, with repeated practice, patients can increase activity in brain areas that have been disconnected," she told the British Science Festival at Bradford University.

Tests on stroke patients found that playing computer games every day could stimulate the brain to bypass the damaged areas by "recruiting" new connections between nerve cells in undamaged areas. The scientists extended the research by using small electrical currents that are believed to stimulate connections between and re-growth of nerve cells or blood vessels.

The technique involves placing rubber pads on each side of the skull.
Electric currents of around 1 to 2 milliamps are passed from one electrode to the other.

Stroke damage usually affects only part of the brain, which means that other areas attempt to compensate by a "rebalancing" process. "This change in the balance of activity is most common in poorly recovered patients. It is possible that rebalancing the brain might provide a route to better recovery," Professor Johansen-Berg said.

Senin, 07 April 2014

EMOSI YANG SENSITIF



Seperti dijelaskan dibeberapa topik sebelumnya bahwa para penderita Stroke pada umumnya pada situasi depresi dan relatif sensitif perasaannya. Mereka merasa tidak bisa hidup seperti semula dan hidupnya tidak normal. Tidak normal bukan berarti  tidak waras tetapi tidak seperti orang sehat pada umumnya.

                      Penderita stroke ketawa

Bisa saja pada masa sehatnya, penderita adalah orang yang panjang sabar, tidak mudah marah, tidak cengeng, tidak mudah meneteskan air mata. Tetapi sejak terserang stroke characternya berubah 180 derajat.
Hanya masalah kecil dan sepele, bisa meledak melengking suaranya.
Waktu menonton TV pun tidak bisa menahan tidak ngakak dan dalam waktu yg tidak lama berurai air mata melihat tontonan yang sedih.

                             Keseimbangan

Pada saat akan melangkahkan kaki keseimbangannya bisa terganggu jika melihat tayangan TV atau mendengar suara keras tiba tiba. Bahkan bisa mengakibatkan jatuh. mata dan telinga.Demikian juga jika disapa dari arah belakang, penderita stroke pada umumnya kaget/terkejut. Jadi faktor mata dan telinga sangat sensitif terhadap tontonan ataupun suara. Memang faktor keseimbangan ada disekitar telinga dan mata.

Hal ini sangat penting diminta pengertian dari para keluarga agar memperhatikan dan memperlakukan penderita Stroke dengan hati hati dan penuh kasih.

Selasa, 25 Maret 2014

SPASTIK ATAU TEGANG OTOT



Salah satu masalah yang dialami oleh penderita stroke adalah ketegangan otot atau yang dikenal dengan istilah Spastik, yang terjadi ketika timbul emosi atau jika penderita tidak bisa lagi menahan akan buang air kecil. Yang saya alami adalah kaki tegang beberapa saat, sebelum hilang kemudian.

Dua orang dokter di Rumah Sakit yang sama memberi tanggapan yang berbeda beda. Dokter rehabilisasi medik berkata :"Terjadi miss kordinasi antara syaraf otak dengan kaki", katanya. Maksudnya syaraf belum bisa memerintah kaki untuk bergerak.

Dokter memberi resep obat tertentu dengan berkata begini :"Kita coba separo tablet dulu ya", katanya. Karena ada pasien di Rumah Sakit itu yang mengkonsumsinya dengan dampak yang kurang baik yaitu agak lemas setelah memakannya. Saya memutuskan untuk tidak membeli obat tsb, tidak mau jadi kelinci percobaan.

Dokter tusuk jarum bekata :"Spastik belum ditemukan obatnya hingga kini", katanya setelah saya mendapat tusukan jarum mulai dari 30 jarum hingga tersisa 10 jarum dalam 3 bulan.

Penasaran, saya Google dan ketemu sebuah paper ilmiah dari 3 mahasiswa Universitas Sriwijaya Palembang dibawah bimbingan seorang dokter dengan judul "Rehabilitasi Medik pada Spastik" *)

Untuk menembah wawasan dan cara mengatasi spastik. Saya kutip beberapa hal seperti dibawah ini :



Beberapa macam latihan dibawah ini sudah sering dipakai pada pusat-pusat kebugaran dan
 pusat latihan atlit.
Beberapa studi telah dilaporkan berguna untuk dalam penatalaksanaan spastisitas otot. Beberapa modalitas fisik yang telah diperiksa dan mempunyai efek terhadap spastik adalah7 macam:
Shock wave therapy, ultrasound therapy, cryotherapy,thermotherapy, vibration dan stimulasi elektrik.



1. Shock Wave Therapy
Adalah sebuah rangkaian dari pulsasi sonik tunggal yang mempunyai tekanan yang sangat tinggi (100 Mpa), peningkatan tekanan yang cepat (<10µs) dan durasi yang lambat (10µs). Efek dari terapi ini adalah terhadap tulang dan tendon.



2. Terapi ultrasound 
Memiliki efek mekanikal dan termal pada jaringan target yang menyebabkan terjadinya peningkatan metabolism lokal, sirkulasi, jaringan, penghubung yang regang, regenerasi jaringan dengan peningkatan pada sindroma nyeri , bengkak, dan ROM artikular.

Setelah dilihat efeknya terhadap otot, terapi
ultrasound  yang dikombinasikan dengan regangan statis menunjukkan perbaikanyang signifikan pada otot yang bermasalah bila dibandingkan dengan terapi regangan statis.



3. Cryotherapy
Pendinginan otot secara lokal telah dideskripsikan untuk sementara dapat menurunkan spastisitas dan klonus terutama dengan mengurangi sensitivitas muscle spindle terhadap regangan.

Pendinginan lokal dari otot yang spastik sangat bermanfaat dan tidak mahal dan juga bisa dikombinasikan dengan latihan aktif dari otot antagonis dan juga digunakan untuk otot hipertonia dan klonus. Harlaar dkk telah melaporkan suhu yang efektif untuk otot spastik pada manusia setelah pendinginan lokal selam 20 menit adalah -12 derajat C.



4.Thermotherapy
Walaupun efek pendinginan pada spastisitas telah diinvestigasi memiliki efek lebih baik daripada penghangatan superficial. Tetapithermotherapy dapat menurunkan tonus otot, mengurangi spasme otot, dan meningkatkan ambang batas nyeri pada pasien dengan otot hipertonia.

Matsumoto dkk menyatakan
 bahwa amplitudo gelombang F dan rasio M-rensponse secara signifikanmenurunkan spastisitas pada pasien pasca stroke setelah 10 menit mandi air hangat
(41
0 C).


5. Vibrasi
Stimulasi vibrasi juga ditemukan bermanfaat mempunyai efek anti spastik. Noma dkk telah melaporkan efektivitas dari aplikasi langsung dari stimuli vibrasi pada otot spastik ekstremitas atas, lengan bawah, dan lengan atas pasien stroke.

Aktivasi dari aferen pudendal setelah stimulasi vibrasi penile dan mempengaruhi sirkuit neuronal pada lumbar spinal cord 
yang terlibat dalam patofisiologi spastisitas ekstremitas bawah.





6. Stimulasi Elektrik 
Stimulasi saraf elektrik transkutaneus (TENS) yang diterapkan umumnya pada saraf peroneal, dermatom spinal atau region pada otot yang spastik telah dilaporkan dapat mengurangi tonus otot pada pasien stroke, spinal cord injury dan cerebral palsy.TENS yang memiliki anti spastik dihipotesakan berhubungan dengan produksi β-endorfin yang mungkin menurunkan.


7. Terapi Farmakologis1.
Terapi sentral/sistemik. Diindikasikan untuk spastisitas otot generalisata dan regional. Obat sistemik akan menyebabkan relaksasi otot menyeluruh dengan cara menghambat neurotransmiter eksitatorik atau meningkatkan kerja neurotransmiter inhibitorik pada sistem saraf pusat.

Obat sistemik oral mempunyai efek samping menekan sistem saraf pusat yang bermakna (kantuk, dan lain-lain) sehingga meningkatkan risiko jatuh dan fraktur, terutama pada orang tua. Contoh obat yang bekerja sentral : Baclofen, Dantrolen, Tizanidine, Clonidine,Gabapentin.

Baclofen paling sering digunakan, namun banyak efek sampingnya
yaitu infeksi di tempat injeksi, menimbulkan kantuk dan depresi pernapasan, serta gejala putus obat (withdrawal symptom)
yang menyulitkan. Apabila terapi oral gagal baru diberikan secara intratekal.


*)Rehabilitasi Medik pada Spastik 

Oleh: Amelia C Siagian, S.
Dezar anugrah putra, S. Ked
Rifki Yulian, S. Ked


Dosen Pembimbing:

Dr. Ibrahim

DEPARTEMEN REHABILITASI MEDIK FAK KEDOKTERAN UNIV. SRIWIJAYA/RUMAH SAKIT  DR. MOH. HOESIN PALEMBANG 2011